Hati, Nurani.

Dari sekian puluh ribu atau bahkan juta langkah kaki, rasanya baru kali ini aku mengenal cinta. bisa jadi yang kurasa adalah hal merah jambu itu. dimana aku terjatuh lalu bangkit sendiri dengan kedua kakiku. bukan karena sosok yang lain.
mungkin itu yang disebut dengan cinta sebelah pihak. bukan sebelah pihak, tapi beda takaran, atau tak seimbang karena kita tak terpisah.
rasanya seperti baru menyelam ke dalam rangkaian langkah penuh resiko. dimana ada kebahagiaan, kebodohan, kegilaan, tak peduli orang berkata apa, semuanya bercampur jadi satu.

ini tentang sosoknya, yang berawal dari bukan rasa. dan dimulai dari 0. tapi kisah ini bukan kisah yang sempurna, meskipun nyaris... dibalik semuanya, kau akan meringis dan menyuruhku untuk melangkah menjauh. tapi itu tantangannya. dan aku masih punya batasan kesabaran.
bukan kah kesabaran tak berbatas? untuk hal tertentu kesabaran harus dibatasi.

ini lucu. ini aneh. ini gila.

tidak, tak seharusnya aku begini, memang tidak. mungkin aku adalah bayangan yang masih menikmati hujan. proses dalam menilai kehidupan. membiarkan waktu berserakan layaknya pasir yang kau urai, tak akan utuh jika kembali. dan bahkan tidak akan pernah kembali.

hingga satu persatu masalah muncul. mungkin kau akan benar-benar menyuruhku menjauh, atau jika itu dirimu kamu akan segera bergegas, sebab masalah itu masih beranak pinak. hal yang paling di benci kaum hawa. memang, aku tak tahu kapan semuanya berakhir, dan kapan kebahagiaan hakiki itu datang, tapi tak henti ku doakan sosoknya setiap malam. kuyakin Tuhan tidak tidur dan mendengar doaku, hanya itu yang bisa kulakukan setelah logikaku terkuras. tapi jika doa itu tak terwujud, mungkin kami bukanlah cerita yang berakhir dengan keabadian, dan ini adalah sebuah perjalanan.

ya, ini adalah sebuah perjalanan.

kemudian untuk sosok yang lain.

kurelakan semuanya dimulai dari awal, dengan semua hal baru, dengan hati yang lebih kuat lagi, dengan logika yang lebih matang lagi, dengan prasangka yang slalu dijaga. tapi tidak dengan ketegasan. awal mula kesalahan.

bukankah ini pilihan?
kembali menjadi batu yang keras, dingin dan tak mampu mendengar, nona yang keras kepala.

waktu masih membawa kami, mengajakku bermain-main lagi. dengan api, dengan bahaya. dengan tangan yang belum tentu bisa digenggam selamanya, dengan bahu yang bisa berpaling kapan saja.

lalu saat aku terjatuh,
kulihat jejakku semakin berantakkan, meninggalkan kewajibannya, menunda masa depannya yang terancam tidak cemerlang. rasanya aku tak mampu beradaptasi dengan orang-orang yang seharusnya bisa kurangkul sekarang. dan ketika sadar bahwa waktuku terjebak dalam kotak yang sesak. "waktumu tak banyak, tak ada yang bisa di ulang dari awal, itu hanya pikiranmu saja"
aku tak realistis. salah, aku tak mampu melihat kenyataan. membuatku menjadi pribadi yang lain.
kini aku adalah diriku yang baru.

apakah cinta merubah hidupmu?
apakah itu benar cinta jika seperti ini adanya?

lihat lagi kedalam hatimu. ingat mereka yang melahirkanmu dan sosok-sosok yang tak akan pernah ada gantinya, Ibumu... Ayahmu. yang setia menanti di depan rumah, tanpa pamrih berkerja bagai mesin yang tak pernah lelah. yang menanti-nanti senyummu, yang menanti-nanti kehadiranmu.
mungkin sekedar makan bersama di satu meja. mungkin sekedar melihatmu membuatkan minuman untuknya, mungkin sekedar membantu mereka saat mereka tak mampu. sepele bukan?
kau adalah pusat kebahagiaan mereka, obor semangat, alasan langkah-langkah tertatih mereka.

lihat lagi jauh kedalam lubuk hatimu, jadi, yang manakah cinta itu?

Ibu. Ayah.
Tuhanmu.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com