bahumu tak setegap biasanya
berjalan bimbang dengan tatapan seperti itu
kau seakan ragu bahwa ia yang Maha Berkehendak
lantas kau sandarkan peluhmu pada dinding dinding yang kau temui sepanjang jalan
kemudian aku, salah satu dari mereka
lalu langkahmu kian menjauh, mengapa?
jika kau pikir dinding dinding itu hanyalah benda mati yang tak merasa
dan dengan tanpa empati kau hinggap dimana saja, seperti lebah pada bunga
kali ini kau melabuh lagi, di perjalanan yang entah kemana
dan kau hilang tanpa suara
jika kau pikir dinding dinding itu hanyalah benda mati yang tak mampu berkata-kata
dan tak bisa mengeluarkan air mata duka
jika kau pikir dinding dinding itu hanyalah benda mati yang tak mampu bersandiwara
dan tak bisa berdendang jua
maka kau salah
lantas aku harus diam?
lantas aku harus membebaskanmu begitu saja?
langkahmu kian merapat senja, hingga tersisa bayangmu yang memanjang.. semakin jauh semakin gelap dan hitam
jingga keemasan disana, kemudian kau terdiam
adakah ambisimu untuk kembali?
kau bilang kau hendak membangun duniamu sendiri, dengan semangat dua juta warna dan senyuman yang tak pernah pudar dari ingatan?
kau bilang kau hendak membangun kerajaaanmu sendiri dengan superego yang lebih baik dengan emosi dan religi yang mampu menopang masa depanmu nanti?
namun kau katakan lagi bahwa kau ingin menjemput masa lalu
dan kini kau semakin merapat pada mentari jingga di ujung sana...
lantas aku harus diam?
lantas aku harus membebaskanmu begitu saja?
lekat-lekat kupandang dirimu dari sisiku, ku tahu tak mungkin untuk menarikmu kembali sebab aku hanyalah dinding-dinding dengan pijakan tak berdimensi
ku jaga lekat-lekat sebelum bayanganmu menghilang dalam ingatan
aku hanya mampu mengantarkan doa kepada yang Maha Esa, agar kau selalu dalam kasih-Nya
kemudian kini kau memandangan langit.
Kau tak ubahnya manusia di pelupuk senja.