Ayah, Ibu, Adik-adikku

kapankah terakhir kali kutatap wajah mereka, selain lampu-lampu jalanan, dan lampu-lampu temaram, juga langit-langit biru yang kuabaikan?
sekiranya kapan terakhir kali kita bercengkrama? bukankah dahulu kala, saat dunia kita masih belum segila ini?

kami langkahkan kaki satu persatu dan membiarkan mereka berharap, menanti kepulangan kami dengan mata panjang

kapan terakhir kali kita habiskan detik demi detik bersama?
kami lalui hari, waktu demi waktu bersama sesuatu yang tak melahirkan kami, juga tidak menghidupkan kami
kami lengah, terbawa arus ambisi

ruang itu kian menjelma sepi
hingga hilang bayangmu disisi,
meski tak membuatmu lupa bahwa kami pernah disini

ketika hidup kami sibuk untuk menghidupi hidup dengan kehidupan,
namun apakah itu kehidupan?

mungkinkah kekayaan yang melimpah ruah?
mungkinkah kekuataan dan kejayaan?
atau pujian dan nama yang tersohor?

ketiadaanmu membuat waktu  berjalan begitu lambat, kini kian terasa berat
ketiadaanmu menghadirkan rasa kehilanganan dan ingin selalu berpegang erat

lalu, kapankah kita menepi lagi?
bertukar suka duka, duduk senada dalam rasa

dan ruang itu akan selalu menjadi milikmu, hingga kau datang kembali
tak ada yang mampu, tak ada yang bisa menggantikanmu

ruang itu akan senantiasa terjaga
dan melahirkan kita seperti sedia kala.

No comments:

Post a Comment

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com